Tradisi Masyarakat Pegunungan Dieng

Tradisi Masyarakat Pegunungan Dieng

Sumber yang menceritakan tentang kondisi sosial budaya masyarakat di pegunungan Dieng ditemukan dalam terjemahan Serat Centhini yang ditulis awal abad ke-19 kurang lebih pada tahun 1815. Di dalamnya diceritakan tentang perjalanan Jayengsari beserta isterinya Rancangkapti disertai pembantunya Buras di pegunungan Dieng. Diceritakan bahwa pegunungan Dieng pada masa itu penduduknya sudah hidup teratur, suhunya sangat dingin, dan hampir semua rumah penduduk Dieng memiliki goa-goaan atau perapian (totor) yang berfungsi untuk memanaskan tubuh dan ruangan (Margana, 2008; Sukatno, 2004). Pegunungan Dieng pernah…

Read More Read More

RESTORASI MASJID AL MANSHUR WONOSOBO (Sebuah upaya untuk menggembalikan Arsitektur Islam Nusantara)

RESTORASI MASJID AL MANSHUR WONOSOBO (Sebuah upaya untuk menggembalikan Arsitektur Islam Nusantara)

RESTORASI MASJID AL MANSHUR WONOSOBO (Sebuah upaya untuk menggembalikan Arsitektur Islam Nusantara)   Penataan kota yang lebih ramah terhadap lingkungan dalam konsep kesimbangan yang dijabarkan dalam  Wonosobo Green City telah menjadi kebutuhan tidak hanya menjadi pemenuhan sasaran dan target pemerintah, tetapi juga kebutuhan masyarakat akan ruang-ruang publik yang mampu memberikan kenyamanan. Pemenuhan ruang publik dengan kapasitas yang nyaman ini memang memerlukan upaya besar dari pemerintah yang dipandang sebagai upaya pemenuhan hak masyarakat akan ruang publik yang mampu memfasilitasi kegiatan-kegiatan dan…

Read More Read More

BAGENEN DI DIENG DULU DAN SEKARANG

BAGENEN DI DIENG DULU DAN SEKARANG

      Ketika kita berkunjung ke rumah-rumah di Dieng. Akan selalu dijumpai ruang untuk memanaskan badan. Orang Dieng menamakan tempat tersebut dengan nama Bagenen. Setelah dilakukan penelitian secara mendalam, ternyata Bagenen tidak hanya untuk memanaskan badan saja, Bagenen menjadi wadah untuk melakukan berbagai aktivitas kegiatan, seperti; sosial, budaya bahkan ekonomi masyarakat Dieng.        Menurut Pontjosutirto (1961) bagenen adalah tempat perapian, berujud api unggun biasa yang dikelilingi oleh beberapa buah jengkok (atau kursi pendek) yang terdapat pada rumah masyarakat di Pegunungan Dieng….

Read More Read More

RUMAH DI DIENG

RUMAH DI DIENG

RUMAH DI PEGUNUNGAN DIENG ( CONTOH ARSITEKTUR ISLAM NUSANTARA DI PEGUNUNGAN) Rumah adalah wadah bagi manusia untuk berlindung, melakukan kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan keagamaan. Tata Ruang Rumah di Pegunungan Dieng menjadi salah satu contoh Arsitektur Islam Nusantara. Dimana tata ruang yang dibentuk mampu menampung dengan baik berbagai  aktivitas keagamaan, budaya, dan  aktivitas kehidupan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada pertanian tembakau dan tanaman sayuran. Hingga saat ini konsep tata ruang tersebut masih tetap dipertahankan dengan berbagai pengembangan, tetapi dengan kedalaman…

Read More Read More

Menggali Konsep Arsitektur Islam Sebagai Basis Pengembangan Pendidikan Arsitektur di Universitas Sains Al Qur’an Wonosobo

Menggali Konsep Arsitektur Islam Sebagai Basis Pengembangan Pendidikan Arsitektur di Universitas Sains Al Qur’an Wonosobo

Munculnya revolosi industri di Eropa telah merubah cara-cara manusia melakukan produksi, yaitu dari penggunaan tenaga manusia dan hewan menjadi mesin. Dengan kredonya rasionalisasi, optimalisasi, minimalisasi, dan maksimalisasi, menyebabkan perubahan yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat perkotaan.Perubahan tersebut melahirkan surplus dan pertumbuhan perkotaan yang tidak terduga. Kota-kota yang dibangun pada masa sebelumnya pada akhirnya tidak siap dan tidak mampu menerima pertumbuhan dan surplus yang luar biasa tersebut (Gurrel, 1992; dalam Sudaryono, 2012). Kota yang awalnya dirancang menjadi ruang hunian, berubah fungsi…

Read More Read More

KONSEP MANCAPAT PADA PERMUKIMAN DI DATARAN TINGGI DIENG WONOSOBO

KONSEP MANCAPAT PADA PERMUKIMAN DI DATARAN TINGGI DIENG WONOSOBO

Pada masyarakat Jawa kuno dikenal  konsep mancapat dan mancalimo, di mana satu desa induk dikelilingi oleh empat desa yang terletak di empat penjuru mata angin, atau satu desa induk dikelilingi oleh delapan desa yang terletak di delapan penjuru mata angin, namun ke empat atau delapan desa tersebut tidaklah selalu tepat berada di ke empat atau delapan penjuru mata angin. Posisi tersebut dapat berubah karena terdapatnya hambatan alam seperti misalnya jurang, danau, hutan dan pengunungan, sehingga di tempat-tempat tersebut tidak dapat…

Read More Read More

KAJIAN ARSITEKTUR ISLAM NUSANTARA

KAJIAN ARSITEKTUR ISLAM NUSANTARA

TRADISI JAWA KUNO, HINDU, DAN ISLAM PADA PEMBENTUKAN PERMUKIMAN DI MASYARAKAT TENGGER DAN PEGUNUNGAN DIENG Pada awalnya masyarakat Tengger menganut kepercayaan dinamisme dan animisme. Pengaruh agama Hindu-Budha di Tengger dibawa oleh Rara Anteng dan Jaka Seger. Sebelum tahun 1973 agama masyarakat Tengger tidak jelas, secara resmi baru dilaksanakan pembinaan Hindu Dharma pada tahun 1973 (Dewi, 2011). Beberapa upacara adat yang masih dilaksanakan adalah upacara hari Raya Kasada, Hari Raya Karo, dan Entas-entas. Konsep yang menjadi landasan hidup masyarakat Suku Tengger…

Read More Read More